Bukankah itu pengorbanan jika keluarga mendampingi juga keluarga lain yang sedang menghadapi masalah? Semua pengorbanan ini adalah cara yang dipakai Allah untuk menguduskan keluarga. Maka peran keluarga untuk saling menguduskan mempunyai akarnya dari Pembaptisan, dan mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi. Mengapa? Sebab perayaan Ekaristi menghadirkan kembali perjanjian antara Kristus dengan Gereja-Nya, yang dimeteraikan dengan darah-Nya. Di dalam kurban Kristus ini pasangan suami istri memperoleh rahmat dari sumbernya, dari mana perjanjian perkawinan mereka berasal, didirikan, dan terus menerus diperbaharui. Ekaristi memberikan kepada keluarga, karunia cinta kasih yang menjadi dasar dan jiwa bagi persekutuan keluarga dan misi yang diembannya.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Akh, berarti kematianku sudah sangat dekat? Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal? Atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Kalimat itu sama seperti yang dikatakan oleh Yesaya, padahal Yesaya adalah orang yang dipakai oleh Tuhan, yang ketika berhadapan dengan Allah, kemudian dia melihat dan mendengar malaikat itu berseru: “Suci, suci, sucilah Tuhan! ” Langsung dia itu mengatakan: “Celaka aku! Aku orang yang berdosa! Celaka aku!” Kalimat itu boleh diumpamakan seperti satu gelas beling yang jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping (disintegrate). Hidup kita ini penuh dengan dimensi-dimensi, ada pasangan hidup kita, perlu uang untuk makan, perlu berelasi dengan mertua dan orang tua, berelasi dengan teman-teman sosial.
Dua bulan setelah aktif Misa pada tahun 2006, ia memutuskan untuk ambil bagian dalam sebuah retret karismatik yang digelar oleh Kongregasi Vinsensian India. Dalam retret itu Srinivasan menemukan yang ia cari selama bertahun-tahun. Ia merasa bahwa inilah jawaban atas pencariannya. “Dan saya berkata, ok Tuhan, saya tidak akan pulang tanpa kamu,” urainya mengenang. Ia pun minta izin kepada romo di rumah retret itu untuk dibaptis. Setelah melakukan serangkaian pendampingan dan wawancara, ia pun dinyatakan layak menerima Sakramen Inisiasi (Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Krisma). Nama Christina ia pilih sebagai penanda bahwa sejak saat itu ia adalah seorang Katolik.